Tren Mahasiswa Indonesia di Negeri Paman Sam

Seperti apa tren studi mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat? Richardson Kilis mencoba memberikan gambaran sederhana.
Lulusan Cornell University di bidang Teknik Kimia ini melaporkan melalui Indonesia Mengglobal bahwa tren jumlah mahasiswa Indonesia yang studi di Amerika Serikat terus meningkat. Peningkatan jumlah ini tak lepas dari makin eratnya kerja sama yang dibina oleh pemerintah kedua negara.
Dengan sikap terbuka Pemerintah Amerika Serikat, Richardson mencatat kemungkinan perkembangan positif tren studi mahasiswa Indonesia ke Amerika Serikat pada tahun-tahun mendatang.

Tiga tahun lalu, saya punya kesempatan untuk menuliskan sebuah artikel berjudul “Indonesian Students in the Asian American Scene” untuk dipublikasikan di dalam buku “Nuansa East Coast: Sumbangan Pemikiran dan Catatan Kampus Cendekiawan Indonesia di Pantai Timur AS”. Buku tersebut dicetak terbatas, maka isi dan ide para akademisi Indonesia yang berkontribusi dalam penerbitan buku tersebut tidak pernah sampai ke masyarakat luas.

Meski tampak mengecewakan, saya sebenarnya lega bahwa tulisan saya tidak pernah dipublikasikan karena perkembangan baru-baru ini memunculkan kemungkinan perubahan pandangan terhadap tren penerimaan mahasiswa baru di masa depan.

Selama tahun pelajaran 2011-12, 7.131 orang Indonesia terdaftar di institusi pendidikan tinggi Amerika Serikat. Pertumbuhannya mencapai 2,7 persen dari tahun sebelumnya. Namun, tetap saja angka ini terbilang rendah jika dibandingkan pada tahun akademik 1997-98 yang mencapai 13.282 mahasiswa. Angka itu hanya meningkat tiga kali dalam kurun waktu 14 tahun sejak catatan puncak tersebut sampai kondisi terbaru sekarang.

Mahasiswa baru pertama dari Indonesia tiba pada tahun 1953 melalui program pertukaran yang disponsori oleh US International Cooperation Administration, yang kemudian dikenal sebagai US Agency for International Development atau USAID. Program tersebut membawa mahasiswa kedokteran dari Universitas Indonesia untuk belajar di Universitas California di Berkeley.

Pernah ada pendapat bahwa krisis moneter yang menghantam Indonesia dan sebagian Asia Timur pada tahun 1997 mengakibatkan penarikan mayoritas mahasiswa, tetapi data Institute of International Education tidak mengindikasikan demikian. Institusi terkait di Amerika Serikat yang mencatat melaporkan jumlah mahasiswa Indonesia yang mendaftar tetap atau meningkat antara musim gugur 1997 dan musim semi 1998. Perubahan terbesar sebenarnya terjadi pada tahun 2002-05 saat orang Indonesia yang mendaftar ke institusi Amerika turun sepertiganya.

Saat Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengunjungi Indonesia pada November 2010, Amerika Serikat meluncurkan investasi 165 juta dollar Amerika selama lima tahun untuk memperluas kolaborasi pendidikan tinggi sebagai bagian dari kerja sama komprehensif dengan Indonesia. Hal ini termasuk beasiswa USAID untuk lebih dari 25 universitas yang bekerja sama dan program baru beasiswa Fulbright. Mahasiswa Indonesia akan memperoleh kesempatan untuk belajar bahasa Inggris dan para mahasiswa Amerika memiliki kesempatan untuk belajar Indonesia dalam konteks lokal.

Februari tahun itu, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Cameron Hume, juga menyatakan bahwa tujuan kedutaan besar di Jakarta adalah untuk menggandakan pendaftaran mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat. Pada rata-rata 2,7 persen pertumbuhan itu, ini tentu bukan hal yang mudah. Bagaimanapun kenaikan ini merupakan indikator pertama bahwa kerja sama komprehensif 2010 mungkin menjadi sebuah perkembangan positif untuk pendaftaran mahasiswa di masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar