Dampak Global Warming di Pesisir Utara Semarang

Pemanasan global (global warming) adalah peningkatan rata-rata temperatur atmosfir bumi dan laut. Menurut catatan di Wikipedia, sejak awal abad ke-20, temperatur bumi rata-rata meningkat 0,80 C, dan lebih parah lagi sejak tahun 1980-an, yaitu terjadi peningkatan rata-rata suhu yang mencapai 200%-300% dibanding dekade sebelum.



Apa saja dampak buruk dari global warming ini? Ada beberapa hal yang bisa disebutkan di sini antara lain: cuaca yang berfluktuasi secara ekstrem-yang berpotensi menyebabkan badai, banjir dan bencana alam lainnya, peningkatan keasaman air hujan yang bisa menyebabkan percepatan kerusakan bangunan-bangunan kuno warisan dunia, peningkatan rata-rata ketinggian air laut penyebab rob, gelombang panas penyebab kebakaran hutan, munculnya hama tanaman baru, munculnya penyakit-penyakit baru bagi manusia dan binatang, serta banyak lagi dampak-dampak berbahaya lainnya. Luasnya efek negatif dariglobal warming tentu memerlukan waktu tersendiri untuk mengulasnya. Untuk itu pada kesempatan ini penulis hanya ingin membahas dampak global warming yang mengakibatkan banjir/rob saja, khususnya yang terjadi di Semarang- ibukota propinsi Jawa Tengah. 

Bila dirunut ke pangkal permasalahannya, rob ini sebenarnya disebabkan oleh perubahan suhu di kutub utara dan kutub selatan (Arktik dan Antartika) yang terus meningkat, akibatnya adalah salju abadi yang berupa gunung-gunung es terus mencair. Saat ini luas daratan Antartika dan Arktik terus berkurang secara signifikan. Logikanya pencairan gunung-gunung es ini akan menambah volume air laut, hal inilah yang memicu terjadinya rob. Rob sendiri definisinya adalah merembesnya air laut ke wilayah daratan yang wujudnya berupa banjir. Dataran yang dipenuhi air rob ini biasanya ketinggiannya hampir sama dengan ketinggian permukaan air laut atau relatif lebih rendah daripada dataran di sekitarnya.

Rob yang terjadi di Semarang ini merupakan yang terparah di pantai utara pulau Jawa-selain yang terjadi di Pluit-Jakarta Utara. Hampir sepanjang tahun terjadi genangan air di sekitar Pelabuhan Tanjung Mas, yang meluas hingga ke kawasan rel-rel kereta api di areal stasiun Semarang Tawang. Rel-rel aktif yang menjadi urat nadi lalu lintas kereta api trans Jawa ini, pada suatu saat bisa benar-benar tenggelam dengan ketinggian air mencapai 1-1,5 meter. Hal ini terjadi bila laut pasang, mau tak mau kawasan ini akan berubah menjadi seperti rawa-rawa.

Rob ini acapkali merepotkan para petugas kereta api karena lalu lintas kereta jadi terhambat atau bahkan terputus sama sekali. Bila hal ini terjadi, penumpang dari arah timur (Surabaya) harus berhenti di suatu stasiun kecil lalu seluruh penumpangnya dipindahkan ke rangkaian gerbong kereta dengan lokomotif khusus yang lebih tahan banjir. Sesampai di daerah yang memungkinkan/kering, yaitu di stasiun Poncol, penumpang akan dipindahkan lagi ke kereta lain untuk diangkut menuju Jakarta. Demikian pula sebaliknya untuk penumpang dari arah barat (Jakarta), akan diberlakukan penanganan yang sama.

Rembesan air laut ini juga mengganggu jalur transportasi laut di pelabuhan Tanjung Mas-Semarang. Kendaraan pengantar penumpang kapal antar pulau dan truk pengangkut barang seringkali terlihat seperti berjalan di atas laut (lihat foto di atas). Keluar dari pelabuhan pun truk-truk maupun kendaraan-kendaraan lainnya juga masih harus ekstra hati-hati karena kawasan yang tergenang air laut ini, dalam radius yang cukup luas hingga 3-4 km dari dermaga.

Pemerintah daerah Semarang sebenarnya sudah berusaha mengatasi dampak rob ini, untuk transportasi ke pelabuhan sudah dibuatkan jalan tol/fly over lingkar luar Komodor Laut Yos Sudarso yang bebas banjir. Namun untuk akses ke area pelabuhan tetap saja melawati jalan-jalan yang rendah. Sementara penanganan untuk jalur kereta dan stasiun juga tidak kalah peliknya, saat ini di kawasan stasiun Semarang Tawang terhitung sudah tiga kali diuruk sejak tahun 1990-an. Total ketinggian pengurukkan sudah mencapai 1,5 meter. Namun walaupun demikian, beberapa ruas rel masih juga acapkali tenggelam. Hal ini diduga karena ketinggian permukaan air laut yang terus meningkat akibat global warming.

Sebagai sebuah masalah serius yang mengancam kelangsungan hidup manusia, sudah seharusnya isu pemanasan global ini segera diatasi secara komprehensif di tingkat dunia. Sangat diharapkan munculnya kesadaran seluruh umat manusia secara implementatif dalam mengurangi emisi gas buang (CO2), pemakaian gas pendingin bebas freon, melaksanakan reboisasi di perkotaan, rehabilitasi hutan yang rusak, pencegahan kebakaran hutan, dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar