Industri Gula Digenjot, Lahan Pertanian Tebu Capai 375 Ribu Hektare

Provinsi Lampung selama ini menjadi jantung dari industri gula di Indonesia karena banyaknya petani tebu dan produk gula yang tinggi. Tahun 2013 hingga 2014, lahan yang ditanami tebu diperkirakan mencapai 375 ribu hektare. Indonesia memproduksi gula putih dari perkebunan tebu di mana sebagian besar diproduksi untuk dikonsumsi secara langsung. Indonesia juga memproduksi gula refined dari gula mentah impor, yang umumnya digunakan untuk pengolahan oleh industri makanan dan minuman.


Menurut data USDA Foreign Agricultural Service, sebanyak 375.000 hektare lahan Indonesia ditanami tebu dalam kurun waktu 2012 hingga 2013. Jumlah ini meningkat dari sekitar 5.000 hektare dari tahun sebelumnya.

General Manager PT Satrindo Mitra Utama, distributor resmi John Deere produsen mesin pertanian di Indonesia, Ari Abdulrachman mengatakan, lahan produktif yang terus digenjot terutama di Jawa Tengah, Lampung, dan Sulawesi Selatan dan didorong oleh cuaca yang menguntungkan sepanjang tahun 2012/2013. Kondisi cuaca yang menguntungkan ini diharapkan terus berlanjut hingga tahun depan.

Petani tebu di Indonesia harus didorong untuk memahami bagaimana mereka dapat mengoptimalkan dan mencapai hasil yang lebih besar dengan memahami tata letak lahan tebu yang mereka miliki, agar produksi dan industri gula terus berkembang. 


Salah satu produsen mesin pertanian di dunia, John Deere, menggelar seminar tebu bertajuk 2013 Sugarcane Seminar di Lampung sebagai jantung industri gula di Indonesia. Melalui seminar ini, John Deere memberikan update pengetahuan tentang bagaimana meningkatkan produktivitas dan efisiensi penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan tebu kepada para petani tebu Indonesia.

Seminar tebu ini dihadiri oleh sekitar 150 dan pelaku industri tebu Indonesia dan internasional. Seminar ini memungkinkan para petani tebu untuk lebih memahami dan memiliki pengetahuan dalam menerapkan metode bertani tebu terkini dengan menghadirkan para pakar industri gula dunia mencapai tujuan menjadi mandiri dalam produksi gula.

Indonesia, kata dia, selama ini telah menjadi salah satu produsen gula terkemuka di Asia yang berpotensi sangat besar untuk tumbuh namun hingga saat ini masih berusaha untuk mengoptimalkan produksi demi memenuhi kebutuhan domestik. Permasalahannya adalah industri gula Indonesia masih memiliki ketergantungan pada tenaga kerja manual dimana hal ini dapat diatasi dengan penggunaan teknik penanaman, pemeliharaan, dan penanganan panen yang lebih efektif dan efisien.

Para petani harus memahami peningkatan industri gula mulai dari sistem manajemen pertanian, irigasi, persiapan lahan, menanam hingga panen, guna memaksimalkan potensi dari lahan yang dimiliki petani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar