(TERNYATA) Dampak Letusan Toba Tak Seburuk Dugaan

Letusan Gunung Toba 75.000 tahun yang lalu sebelumnya diprediksi mengubah iklim global serta mampu memusnahkan manusia. Letusan melepaskan gas sulfur dioksida, mencegah sinar Matahari masuk ke Bumi, menyebabkan tumbuhan sulit berfotosintesis, dan memusnahkan manusia.



Namun, Chistine Lane dari University of Oxford berdasarkan hasil studinya menyanggah dugaan tersebut. Ia mengatakan bahwa efek letusan Toba tak seburuk yang diduga dan kematian manusia tak sebanyak yang diprediksikan.

Lane meneliti lapisan dasar Danau Malawi untuk mengungkap iklim masa lampau. Ia menghubungkan lapisan tiap sedimen dengan iklim masa lampau serta melihat jejak iklim yang terdapat pada hasil metabolisme mikroba.

Berdasarkan analisisnya, Lane mengungkapkan bahwa letusan Toba hanya menurunkan suhu sebesar 1,5 derajat Celsius selama 20-30 tahun. Tak ada dampak iklim signifikan di Afrika bagian timur. Dampak iklim global tak signifikan, seharusnya tak berdampak pada manusia.

Lane mengungkapkan, dampak letusan Toba mungkin hanya dalam skala regional. Contoh, letusan mungkin hanya membunuh manusia yang ada pada radius 100 km dari supervolcano Toba. Dampak iklim berlangsung dalam periode lebih pendek.

Ilmuwan lain, Alan Robock dari Rutgers University, tak yakin dengan hasil penelitian Lane. Ia setuju bahwa dampak letusan Toba mungkin takkan berlangsung hingga ribuan tahun. Namun, dampak jangka pendek tetap mematikan. Dampak singkat itu mungkin tak muncul di rekaman riset Lane.

Robock sendiri melakukan pemodelan iklim terkait letusan Toba. Ia mengungkapkan bahwa dampak iklim dalam jangka pendek memiliki efek mematikan. Dalam pemodelan mereka, semua pohon mati dan ada dampak besar pada vegetasi.

Hans F Graf dari University of Cambridge setuju dengan hasil penelitian Lane. Menurutnya, dengan banyaknya sulfur yang dilepaskan, partikel sulfur berukuran besar. Jumlah cahaya Matahari yang dipantulkan lebih kecil. Pada akhirnya, pendinginan Bumi tak seburuk dugaan.

Lane sendiri mengakui bahwa memang ada dampak iklim jangka pendek. Namun, efek pada manusia tak sedemikian mematikan. Ia menuturkan, manusia Flores (Homo floresiensis) adalah salah satu yang tak terdampak karena lokasinya jauh dari supervolcano Toba. Hasil riset Lane dipublikasikan di jurnalPNAS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar